Bahas Bahasa

Saya punya kedekatan tersendiri dengan bahasa. Bahasa asing non-inggris pertama saya, bahasa turki, adalah tiket gratis saya terbang ke Ankara dan Istanbul. Bahasa kedua, bahasa italia, adalah mata uang saya dengan orang-orang baik yang pernah menghadirkan hangatnya perasaan ‘diterima’. Dan tentu kenyamanan berbahasa Indonesia membawa saya ke dunia sastra yang mengajarkan pesan penting: kemanusiaan dapat diresapi tanpa harus dialami.

Sebagai seorang pembaca yang (sialnya :p) sekaligus pelajar filsafat, kini bahasa tidak lagi sekadar rangkaian huruf atau kumpulan kata. Bagi saya, sadar maupun tidak sadar, bahasa adalah cerminan alam pikiran si penutur. Bahasa mengukur seberapa kita peka. Bahasa menerjemahkan dunia manusia si makhluk simbolik. Bahasa mampu melekatkan stereotip pada hal-hal yang maknanya ingin dibekukan oleh yang tengah memegang kuasa. Bahasa menempatkan yang salah di luar kotak berlabel benar.

Saya memikirkan bahasa seserius saya membayangkan kelak ingin bekerja di mana. Terdengar sungguh nggak praktis, ya? Tapi, saya selalu merasa saya bertanggung jawab terhadap kata-kata yang disusun otak saya, sebagaimana saya punya komitmen yang tidak main-main pada masa depan. Meski membutuhkan waktu yang relatif lebih lama untuk memilih kata, saya menjalani prosesnya dengan senang hati (:

Saya ingin berbagi tiga kata yang saya putuskan tidak lagi saya pakai, bahkan dalam kapasitas sedang bercanda. Iya, bercanda saja saya nggak bisa anggap sekadar candaan. Ataupun jika terpaksa harus saya gunakan, saya sertakan “dalam tanda kutip”.

  • Banci

Sebatas pengamatan saya, kata ‘banci’ sering digunakan untuk mendeskripsikan laki-laki yang feminin atau berpenampilan seperti bagaimana kita bisa melihat perempuan berpakaian. Di titik ekstrem yang saya masih kerap pertanyakan, ada orang-orang yang masih menggunakan ‘banci’ untuk merujuk laki-laki yang memakai kaos berwarna merah muda alias pink, misalnya. Warna adalah satu dari sekian banyak hal yang sifatnya gender-neutral, saudara-saudara. Akan tetapi, keengganan utama saya menggunakan kata ‘banci’ adalah makna dibaliknya yang lebih sering dipakai untuk mendiskreditkan teman-teman transgender. Bagi saya, menjadi seorang transgender adalah pilihan yang tidak perlu dihakimi. Dibebani oleh stigma itu menyesakkan. Saya tidak ingin menjadi salah satu dari mereka yang membuat hidup teman-teman transgender serasa kekurangan oksigen.

  • Perawan tua

Istilah ini sering disematkan kepada perempuan-perempuan yang belum atau tidak menikah di usia yang dianggap seharusnya sudah menikah. Buat saya, perawan tua adalah satu dari sekian banyak produk unggulan budaya patriarki. Budaya yang memandang keperawanan sebagai objek yang menjadi urusan laki-laki. Budaya yang mencabut subjek perempuan dari tubuhnya. Istilah ini begitu lumrah dipakai sampai-sampai kita lupa bahwa istilah ini mengkerdilkan perempuan yang memang belum atau tidak menikah. Lagi-lagi, urusan menikah ini urusan pribadi. Perkara cara orang berbahagia yang tidak perlu selalu disamakan dengan cara kebanyakan orang berbahagia.

  • Pelacur

Pelacur dan segala sinonimnya digunakan untuk menggambarkan “perempuan yang nggak benar”, perempuan yang “menyimpang” dari norma yang terlanjur berlaku dan diamini sebagai kode baku. Atau kadang kata ‘pelacur’ keluar untuk mengekspresikan umpatan. Sama seperti kata ‘banci’, ‘pelacur’ mendiskreditkan teman-teman pekerja seks komersial. Di kepala saya, tidak ada yang salah dari orang-orang yang tanpa paksaan memilih bertahan hidup dengan menggunakan salah satu bagian tubuhnya. Jika terlintas pikiran bahwa kata pelacur layak disematkan karena menunjuk pekerja seks komersial sebagai biang utama tersebarnya penyakit HIV/AIDS, cek penuturan Elizabeth Pisani.

Saya tahu, tiga kata di atas tidak lantas mengakhiri budaya patriarki atau menjadikan dunia rumah bagi semua jenis manusia. Saya cuma percaya, dengan kesadaran berbahasa, itu modal sederhana agar bacaan, pengetahuan, dan pendidikan yang saya peroleh betul-betul membuat saya memperlakukan orang dengan semanusiawi mungkin. Kalau kamu juga punya kata-kata yang sudah kamu pensiunkan, berbagi di kolom komentar, ya!

*) judul post ini diinspirasi oleh lagu di album ‘Taifun’ karya Barasuara.

Infantil

“Ternyata ada yang lebih gaptek daripada aku, ya. hahaha.” Saya cuma bisa nyengir mengiyakan komentar teman sesama scholar dari Indonesia. Komentar tersebut bermula dari saya yang pagi ini minta tolong bimbingannya untuk membayar tagihan sewa kamar. Karena transaksinya menggunakan kartu debit (atau kredit? Bahkan saya tidak yakin tahu apa beda keduanya) dan dioperasikan melalui sistem daring, saya tidak mau mengeksekusinya sendirian. Saya tidak mau ada apa-apa terjadi dan kemudian saya punya beban tagihan senilai hampir 30 juta yang gagal terbayar.

Ia lalu membuka halaman akun bank saya dan bertanya keheranan mengapa jumlah uang beasiswa saya sudah tidak sampai setengah dari jumlah yang baru ditransfer kemarin. “Iya, aku tarik tunai sejumlah uang buat beli tiket di kantor penjualan, tapi ternyata nggak bisa. Jadi, habis ini aku mau ke bank lagi buat deposit uangnya.” Responnya adalah hening sepersekian detik. “Kenapa nggak beli tiket dari websitenya langsung aja?” Dia ternyata belum menyadari problem saya yang tidak berkawan baik dengan transaksi yang melibatkan kecanggihan teknologi. “Aku nggak berani beli online, takut kenapa-kenapa.” Dia cuma bisa menertawakan saya yang sepertinya akan lebih cocok hidup di zaman batu.

Setelah sewa kamar saya terbayar, ia meyakinkan saya bahwa transaksi pembelian tiket penerbangan internasional juga bisa dilakukan dengan kartu yang sama. Namun, karena saldo terakhir tidak mencukupi, saya tetap harus ke bank untuk mendepositkan uang yang semula saya tarik tunai. Teman saya hanya bisa menghela napas melihat saya yang sungguh trampil mempersulit diri sendiri. Helaan napasnya juga ditujukan untuk kejadian beruntun yang baru ia ketahui saat saya menelponnya untuk minta bantuannya membukakan pintu dining hall pagi ini.

“Kamu lupa bawa matric card?”

“Hehehehe. Matric cardku jatuh. Terus aku baru buka email NUS pagi ini dan ternyata ada yang nemuin.”

“Sekarang kartunya di mana?”

“Masih di kantor lost & found di Utown. Baru bisa diambil Senin. Padahal, emailnya dikirim kemarin jam 11:00. Tapi karena aku udah nggak bisa mikir, jadi nggak kepikiran buat buka email NUS dari kemarin.”

“Email kamu nggak disinkronisasi di hp?”

“oh bisa??”

Dia cuma bisa geleng-geleng kepala.

Begitulah. Sebelum matric card—yang sebetulnya merupakan kunci kemana saja dan juga kartu untuk ambil jatah makan di asrama—tercecer, saya juga kehilangan kartu MRT di kursi teater. Padahal, saya yakin sudah cek ulang sebelum meninggalkan tempat. Tapi, di tas saya rupanya tidak ditemukan juga. Raibnya matric card itu bencana yang bikin saya seharian dilanda kesialan lainnya karena konsentrasi saya ikut hilang, mulai dari kartu atm yang tidak terbawa, pesanan Burgerking yang ada baconnya padahal saya nggak suka bacon, sampai misinformasi yang terpaksa membawa saya ke Changi hanya untuk tahu bahwa tiket yang sudah dipesan melalui website ternyata tidak bisa dibayar tunai (padahal, ada opsi tersebut di situs maskapai.) Ingin marah, nangis karena kesal dan kecewa tapi saya juga sadar itu nggak mungkin mengubah apapun.

Saya kecewa karena ini bukan pertama kalinya. Di Itali dulu, saya baru mendapatkan residence permit di bulan ketujuh. Tiga bulan sebelum kembali ke Indonesia. Penyebabnya, saya lupa total kalau saya harus datang ke kantor imigrasi di bulan Desember. Beruntung saya nggak dideportasi. Perkara lupa taruh kunci juga sudah pernah saya lalui. Di Depok, e-ktp saya yang umurnya belum sampai tiga bulan juga lenyap bersama kartu atm, dan kartu tanda mahasiswa, di suatu gerai makanan yang saat itu mati lampu. Dan sudah tidak terhitung berapa kali saya ke kampus dan lupa pakai kacamata, lupa bawa dompet, atau lupa bawa hp. Gara-gara kejadian serupa yang terus berulang itu rasanya saya mau undur diri saja dari golongan Calon Orang Dewasa–yang diharapkan mampu bertanggungjawab, punya rencana yang tertata, dan mengambil keputusan yang realisitis. Hahaha.

Saya masih punya tiga bulan yang saya harus dijalani tanpa kecerobohan dan kealpaan berlebih. Saya janji nggak lagi bikin susah diri sendiri supaya nggak menyusahkan orang lain. Peluk!

Standar Ganda

Jumat, 26 Juni 2015 menandai momen bersejarah bagi kesetaraan hak sipil warga negara Amerika Serikat. Di hari itu mahkamah agung melegalkan pernikahan pasangan gay di seluruh 50 negara bagian. Sebelumnya lisensi pernikahan sipil bagi pasangan gay hanya dikeluarkan oleh kantor pemerintah negara bagian tertentu–di Amerika, ‘buku nikah’ tidak dikeluarkan oleh KUA melainkan oleh city hall yang tidak dibawahi oleh pendeta gereja. Sehingga, pasangan beda agama pun dapat menikah dan tercatat secara administratif. Legalisasi ini penting karena lebih banyak hal (google: “federal rights”) yang dapat diakses dengan memiliki lisensi resmi dari pemerintah.

Legalisasi ini adalah kemenangan bagi aktivis, teman-teman LGBTIQ (lesbian, gay, bi-sexual, trans-gender, intersex, queer) dan khususnya pencapaian politik bagi kelompok Liberal di bawah haluan Partai Demokrat. Tentu ada pro-kontra. Tidak semua warga sipil di sana menyetujui keputusan radikal ini. Para konservativ dari Partai Republik juga beberapa gereja tidak memandang ini sebagai kemajuan yang patut dirayakan. Alasannya beragam, mulai dari alasan teologis (bahwa pernikahan sesama jenis adalah dosa dan dilarang agama mayoritas di Amerika) sampai perkara biologis-sosiologis (bahwa pernikahan sesama jenis tidak memenuhi tujuan prokreasi dari sebuah pernikahan.)

Berdasarkan pengamatan saya cepat-cepat, alasan teologis tersebut adalah yang paling sering dijadikan dasar penolakan warga NKRI terhadap isu pernikahan non-heteroseksual. Pasangan yang diterima oleh masyarakat ultra-religius macam kita hanyalah antara laki-laki dan perempuan. Orientasi homoseksual dianggap ‘salah’ dan tidak sah karena ‘menyimpang’ dari ajaran agama mayoritas yang diedarkan. Akibatnya, teman-teman yang tidak masuk ke lingkaran besar heteroseksual dipandang abnormal, dikucilkan dari pergaulan, distigmatisasi, hingga didiskriminasi. Derajat penolakannya tentu berbeda-beda. Di titik paling ekstrem, ada para bigot yang membenci buta dan mencaci-maki habis-habisan anggota kelompok LGBTIQ. Mereka tidak hanya menolak pencatatan sipil pernikahan sesama jenis dan menolak berinteraksi bahkan berpotensi melakukan tindak kekerasan kepada teman-teman minoritas ini. Setelah itu, ada orang-orang acak yang simply berharap jangan sampai pemerintah NKRI mengakui hak-hak sipil kaum LGBTIQ karena menganggap orientasi seksual mereka tidak sesuai dengan ide tentang pasangan yang sudah mengental di kepala. Mereka adalah orang-orang yang bergidik bahkan ketika hanya mendengar cerita bagaimana kawan-kawan LGBTIQ menjalani hidup. Terakhir, ada orang-orang beragama yang tidak sepakat dengan legalisasi dan orientasi seksual yang berbeda atas dasar ajaran agama yang bersabda itu bagian dari dosa. Akan tetapi, mereka masih bersedia membuka diri untuk berinteraksi dengan teman-teman LGBTIQ.

Sebagai orang yang samasekali tidak keberatan dengan orientasi seksual pasangan sesama jenis, saya selalu mencoba memahami penolakan tersebut dalam rangka menoleransinya. Bagaimana pun juga, penolakan tersebut merupakan bentuk sikap yang tidak perlu saya benci hanya karena ia tidak sejalan dengan posisi etis saya. Namun, jika saya refleksikan dengan apa yang saya alami, saya pribadi tidak pernah merasa terganggu dengan ekspresi kasih sayang antara pasangan sesama jenis. Saya juga tidak merasa keberadaan teman-teman LGBTIQ mengancam kenyamanan hidup saya maupun orang lain. (Terlebih lagi, teman-teman LGBTIQ yang saya kenal adalah orang-orang gemar membaca yang sungguh seru untuk jadi teman diskusi karena isi pikirannya yang kaya dan pembawaannya yang terbuka pada hal-hal yang ditabukan masyarakat arus utama.) Alhasil, muncul tanda tanya: mengapa sebagian besar masyarakat kita masih sedemikian keras bersikap antipati terhadap kelompok yang sebetulnya hanya ingin eksistensinya diakui?

Di level antarindividu, sebagian besar anggota masyarakat kita masih mengakui preferensi personal yang sejalan dengan apa yang dianggap benar berdasarkan, misalkan, ajaran agama tertentu. Kita mengapresiasi perempuan yang mengenakan hijab dan tidak bersikap sedemikian rupa terhadap perempuan yang memutuskan untuk melepas atau tidak memakai penutup kepala. Kita memuja-muji orang-orang yang bersyahadat dan mengucap rasa sesal secara massal pada mereka yang memilih beralih keyakinan. Kita bersorak bangga pada keberadaan seorang dokter muslim yang mengizinkan pasiennya membayar jasanya dengan sampah dan menyayangkan fakta bahwa seorang jenius matematika pencipta prototype komputer adalah seorang gay. Tidak mungkin kah kita mengakui setiap preferensi individu dengan penghargaan yang sama tinggi bagi semua jenis pengalaman personal?

Pertanyaan penutup: Apakah hanya karena dilatarbelakangi oleh ajaran agama yang membagi manusia sebagai pendosa dan bukan pendosa lantas kita dibenarkan memperlakukan sesama manusia dengan menggunakan standar ganda?

Salam.

Cerai

Saya menemukan tulisan Luthfi Assyaukanie yang ia tulis lima tahun silam untuk The Jakarta Post. Di dalam opini berjudul Prime Minister Gillard and the Politics of Faith, Luthfi (penulis buku “Ideologi Islam dan Utopia: Tiga Model Negara Demokrasi di Indonesia” yang saya rekomendasikan untuk kamu baca juga) mengangkat fenomena keterbukaan pejabat publik di Australia perihal keyakinan personalnya. Julia Gillard adalah seorang perdana menteri perempuan yang tidak menikah dan tidak menutup-nutupi bahwa dirinya seorang ateis—definisi versi saya: seseorang yang tidak meyakini keberadaan Tuhan atau apa pun yang sifatnya mistis dan lebih besar dari manusia.

Dua hari setelah Gillard membuat pernyataan tesebut, 65, 57% dari 17.000+ warga Australia yang menjadi responden polling tidak memedulikan keyakinan pribadi Gillard. Mereka lebih peduli terhadap performanya sebagai perdana menteri. Seorang pendeta berkomentar, ia menyayangkan hal tersebut karena Australia bisa-bisa tidak mendapat berkah dari Tuhan akibat dipimpin oleh seseorang yang tidak mengimaninya. Namun, pendeta tersebut berkata ia tidak akan mendorong umatnya untuk tidak memilih Gillard karena keyakinannya yang berbeda sebab ia lebih memilih memisahkan agama dengan politik.

Seperti sebelum-sebelumnya, saya kesulitan berhenti pada aktivitas membaca. Saya seharusnya tidak perlu menuliskan respon saya terhadap isi opini Luthfi—jika saya mau hanya membacanya seperti membaca selebaran info potongan harga di suatu gerai gawai. Dibaca di satu tempat dalam satu waktu dan saya anggap angin lalu. Tapi, isu kehidupan beragama dan bernegara adalah hal yang bisa selalu didiskusikan sekaligus diperdebatkan selama keduanya terus dicampuradukkan. (Tentu yang saya maksud dengan diskusi adalah diskusi mandiri antara saya dan pikiran saya sendiri.)

Kesulitan saya nomor dua adalah membayangkan kapan dan bagaimana masyarakat Indonesia sedewasa, misalkan, masyarakat Australia, dalam menyikapi fenomena serupa. Pertanyaan terbesar saya, harus dengan rekayasa sosial macam apa agar saya bisa tinggal bersama dengan orang-orang yang tidak mempersoalkan pilihan keyakinan orang lain? Pertanyaan tersebut adalah akumulasi dari observasi terbatas saya pada cara orang-orang beragama dalam bernegara, khususnya penganut agama mayoritas—yang di sana, saya tercatat secara administratif sebagai salah satu pemeluknya.

Masih ingat bagaimana polemik Lurah Susan di Lenteng Agung dan Gubernur Ahok di Jakarta? Kebodohan masyarakat kita dalam bernegara ada pada level itu, pada level argumentasi kita-sebaiknya-tidak-dipimpin-non-muslim-nanti-kita-kena-azab-Allah. Saran: coba angkat topik sejarah agama-agama monoteisme di khotbah salat Jumat atau dakwah menjelang buka puasa di televisi. Tujuannya, agar minimal orang-orang tahu bahwa islam dan Kristen berakar pada risalah yang sama. Harapan kecil saya, siapa tahu dengan intervensi kultural macam ini 20 – 30 tahun ke depan sentimen berbasis agama tidak lagi beredar.

Selain minimnya respek pada pilihan pribadi sesama warga negara yang punya keyakinan berbeda, bias agama juga menjangkiti pola pikir para pejabat publik yang berwenang mengeluarkan kebijakan—yang jarang sekali menunjukkan ia dibuat oleh seseorang yang bijak. Dari sekian banyak peraturan yang ada, saya beri tiga contoh.

1. Permohonan kenaikan usia minimum anak perempuan untuk dinikahkan yang ditolak hakim mahkamah konstitusi.

Permohonan ini diajukan oleh sebuah yayasan kesehatan perempuan karena tingginya angka pernikahan dini yang berimplikasi panjang mulai dari kematian ibu saat melahirkan akibat lingkar pinggang yang masih terlalu sempit sampai ketidaksiapan mental anak perempuan usia 16 tahun untuk menjadi ibu. Alasannya? Para hakim MK melandaskan penolakannya pada opini para pemuka agama alias kyai yang lebih khawatir lahirnya anak haram karena si anak perempuan yang tidak dinikahkan secara sah. Tentu atas nama menaati ajaran agama serta otoritas pemukanya, risiko yang ditanggung anak-anak perempuan dari praktik pernikahan dini tidak pantas didahulukan apabila ada kemungkinan lahirnya anak haram yang diizinkan Tuhan untuk hidup. Dalam bernegara, hanya ajaran agama yang valid dijadikan sumber pengambilan keputusan, bukan ilmu pengetahuan.

2. Pemberlakuan jam malam bagi perempuan di kota Banda Aceh

Atas nama penegakan syariat islam, walikota Banda Aceh membatasi ruang gerak perempuan di sana dengan alasan demi keamanan perempuan itu sendiri. Lalu, apa gunanya warga Aceh membayar pajak untuk membayari gaji polisi?

3. Peraturan distribusi dan konsumsi alkohol

Senator Fahira Idris pasti selamat di akhirat karena ia mengamalkan ajaran nahi mungkar tanpa mempertimbangkan perspektif ekonomi secara menyeluruh. Mungkin dia pikir karena ia anggota agama mayoritas maka perundang-undangan negara pun boleh diperalat untuk memastikan ia dan pendukungnya kekal di surga.

Jika ajaran agama (islam) yang tidak bisa difalsifikasi selalu dijadikan tameng dan pada akhirnya mencederai kemanusiaan tiap-tiap golongan (perempuan, laki-laki, kelompok lesbian, gay, trans-gender, queer, teis, ateis, agnostik, dll.), apa kita akan terus memberi kesempatan pada orang-orang beragama yang mempraktikan ajaran agamanya sebagai dasar dalam setiap pengambilan keputusan publik?

Don’t get me wrong. Saya tidak menjatuhkan putusan final bahwa seluruh ajaran agama itu buruk dan tidak memberi manfaat pada kemanusiaan. Mother Theresa dan Nabi Muhammad sebagai manusia-manusia beragama membuktikkan hal yang sebaliknya. Justru agama bisa bertahan berabad-abad karena secara psikologis ajarannya berguna bagi kesintasan manusia. Pandangan saya, prinsip utama agama tidak compatible dengan prinsip berpolitik di dalam kerangka negara republik. Setiap agama mengajarkan bahwa tujuan hidup di dunia ini adalah mempersiapkan diri untuk lolos seleksi masuk ke surga yang abadi. Tujuannya begitu self-centered dan berfokus pada the afterlife. Sedangkan, asal mula negara yang berangkat dari bangunan teori kontrak  sosial yang bertujuan sebaliknya; ia fokus pada bagaimana caranya supaya para manusia-yang-merupakan-serigala-bagi-manusia-lainnya dapat mewujudkan tatanan hidup bersama di dunia.

Demikian unek-unek saya edisi Ramadan.

Plan A/B

Tidak punya rencana jangka panjang adalah akibat tidak langsung dari orang tua yang memanusiakan anaknya. Demikian saya mengkambinghitamkan bapak dan ibuk atas tanggung jawab saya sebagai calon orang dewasa. Sedari kecil keduanya selalu memberi ruang untuk saya mengambil pilihan. Yang baru saya sadari, kini pilihan-pilihan yang perlu saya pertimbangkan tidak sehitam-putih waktu dulu saya di usia belasan. Ini yang memusingkan.

Saya mendapat pengaruh besar dari apa yang sehari-hari dikerjakan Bapak–meskipun dia tidak pernah sekali pun mengarahkan saya untuk mengikuti jejaknya. Bayangan saya dua sampai lima tahun mendatang tidak pernah jauh dari aktivitas seorang akademisi. Seorang peneliti. Seorang pengajar. Seorang pembicara di beberapa seminar. Suatu proyeksi yang resolusinya paling jelas. Paling cerah, tentu bukan dari segi keuangan. hahaha. Paling bikin saya deg-deg-an sekaligus berharap diam-diam semoga kelak jadi kenyataan.

Proyeksi tersebut bukan tanpa penghalang. Adalah rasa percaya diri yang menghalangi. Saya tidak tahu apakah tahun depan saya mampu menulis skripsi yang mendapat predikat “layak diberi kesempatan menjadi dosen muda.”. Saya tidak yakin apakah saya dapat menembus program master di kampus yang saya tuju dan mencetak tesis yang bermutu. Saya bahkan tidak sepenuhnya berani memprediksi apakah saya kelak sanggup menyusun disertasi yang kualitasnya betul-betul merepresentasikan seorang Ph.D..

Orang-orang optimis mengatakan, your dream is not big enough if it does not scare you. Orang berdarah skeptis macam saya akan balas, but, big is relative, isn’t it?  Tanpa mengecilkan cita-cita orang lain, proyeksi saya bisa jadi lebih besar dari keinginan teman saya yang ingin segera menyandang gelar sarjana dan mengakhiri jenjang pendidikannya di tingkat s1. Akan tetapi, dibandingkan dengan seseorang yang bercita-cita mengubah dunia–entah dengan apapun caranya–mimpi saya bahkan tidak masuk kategori mimpi. hahaha.

Sejak mengenal lebih banyak jenis orang, saya belajar bahwa masing-masing  dari mereka punya mimpi yang sifatnya personal. Karena personal, saya kini berhenti membandingkan aspirasi setiap orang dan tidak lagi berminat mengkomparasikannya dengan milik saya sendiri. Setiap individu punya perkembangan dan pencapaian yang berbeda-beda. Dan saya berupaya menghargai keragaman itu.

Selain penghalang internal, tentu ada ‘hambatan’ dari luar. Saya ragu pekerjaan ‘impian’ saya lebih dari sekadar memberi materi ajar, menjadi rekan diskusi di kelas, dan meluluskan serta tidak meluluskan mahasiswanya. (Di era yang segalanya sebisa mungkin bersifat inspiratif, siapa sih yang tidak ingin pekerjaannya dilabeli “memberi manfaat langsung bagi masyarakat”?) Namun, ada tiga hal yang lebih memberatkan:

1. saya hidup di negara yang dikelola oleh para penyelenggara yang belum berpegang pada prinsip intelektualisme sehingga menyelesaikan masalah publik dengan analisis mendalam adalah keengganan. (Ini tercermin dari jargon pemerintah kita; kerja, kerja, kerja. Bukan riset, pikir, kerja.)

2. saya hidup di dalam institusi pendidikan dengan pola pikir yang menyamakan kritisisme dengan sikap negatif–sikap yang sebaiknya dimatikan karena ia membuat kita tidak punya banyak kawan. Kita diyakinkan untuk lebih memilih rasa aman di dalam kerumunan daripada melawan meski sendirian. (Perhatikan konten yang diedarkan di kebanyakan acara yang mendorong kita agar “ber-positive thinking” dan mencari “sisi baik” dari segala persoalan.)

3. saya hidup di masyarakat yang menginduk pada komunitas. Artinya, kuantitas kelompok mendahului kualitas individu. (Kecerdasan seseorang yang datang dari keturunan kyai kondang dari organisasi tertentu lebih dianggap dari seseorang yang kecerdasannya sama tinggi namun ia, misalkan, lahir dari pasangan Ahmadi.)

Meskipun dibayangi oleh tiga hal di atas, saya tetap berupaya menyemangati diri sendiri. hahaha. Pada akhirnya, setiap pekerjaan memiliki hambatannya sendiri-sendiri. Saya tinggal pilih mana hambatan yang saya mau hadapi dengan riang hati. Lagipula, ketidakteraturan semesta kerap memiliki daya kejut yang menyenangkan. Saya masih percaya, hidup yang acak punya kompas yang lebih bisa diandalkan daripada peta rancangan saya sendiri. (Tapi saya masih berharap kecil kompas tersebut nantinya membawa saya ke dunia yang dekat dengan buku, jurnal, dan kertas kerja. Aminkan, ya!)

Menerangkan Filsafat secara Singkat

Belakangan kotak surat elektronik saya dikirimi pertanyaan mengenai bidang yang saya sedang dalami. Pertanyaannya beragam, mulai dari yang paling berhubungan dan yang paling tidak berhubungan dengan filsafat. Kadang muncul rasa malas untuk membalas pertanyaan seputar hal teknis seperti bagaimana kuliah itu terjadi. Saya pikir, pertanyaan-pertanyaan umum seperti itu tidak harus saya yang menjawabnya. Dan pertanyaan yang menyinggung filsafat pun sebetulnya kurang spesifik sehingga saya harus menarik napas “duh, ini kan udah pernah aku tulis di jurusankuliah.tumblr.com‘. hahaha.

Tapi saya juga pernah di masa aku-nggak-tahu-mau-kuliah-apa. Saya memakai pendekatan negatif untuk mengambil keputusan. Artinya, saya eliminasi jurusan-jurusan yang saya tidak minati proses belajarnya sewaktu SMA; fisika, biologi, kimia. Maka, yang tersisa adalah jurusan rumpun sosial-humaniora. Tapi, saya punya momen traumatik dengan Ilmu Ekonomi sehingga mengikuti jejak Sri Mulyani tidak lagi jadi opsi. Saya sempat naksir pada Sosiologi. Namun, setelah saya cari tahu rupanya bidang tersebut padat dengan statistika, saya urung. Singkat cerita, saya putuskan memilih filsafat dengan alasan yang begitu sederhana: saya senang membaca dan menulis, dan saya pernah sedikit mempelajarinya selama sekolah di Roma.

Saya akan memberi daftar pertanyaan yang paling sering masuk ke kotak surat saya (sekaligus jawabannya). Semoga bisa membantu teman-teman yang tengah bimbang mengambil risiko di jurusan yang tidak populer ini. Jika ada pertanyaan di luar daftar ini, silakan colek saya lagi via e-mail.

1. Satu angkatan berapa orang?

Setiap angkatan tentu jumlahnya berbeda. Angkatan saya sendiri awalnya 30 namun kini berjumlah 28 orang; 20 laki-laki dan 8 perempuan. Angkatan di bawah saya, kalau tidak salah, mencapai 35+. Setahu saya, satu angkatan filsafat paling ramai 40 orang. Jumlah orang yang sedikit ini sebetulnya jadi pertimbangan utama. Saya terbiasa sekolah dengan satu kelas berisi 20-25 orang. Dan begitu tahu filsafat hanya berisi segelintir mahasiswa, saya jadikan ia pilihan pertama.

2. Di filsafat belajar apa aja?

Di tulisan saya untuk jurusankuliah.tumblr.com, saya memang nggak sebutkan mata kuliahnya satu per satu. Untuk menjawab pertanyaan ini, saya mau sedikit twist dengan mengambil persamaan dari cara belajar di setiap mata kuliah. Di mata kuliah apa pun, saya dituntut argumentatif. Artinya, di tugas-tugas paper, di presentasi, dan di diskusi kelas yang masih tidak cukup aktif, di ujian lisan saya perlu menyampaikan alasan dari posisi saya atas persoalan yang saya angkat. Dosen-dosen saya tidak ambil pusing posisi saya akan pro atau kontra. Yang lebih penting adalah bagaimana jalan pikiran saya lurus dan tajam dalam meginvestigasi maslaah secara radikal (hingga ke akarnya). Tapi, apabila tugas yang diminta adalah laporan bacaan, maka saya hanya perlu menjabarkan pemahaman saya atas bacaan yang diberi dosen. Pada dasarnya, berfilsafat hanya mungkin dilakukan apabila kita punya stok pengetahuan yang cukup (dengan sabar membaca) dan kemampuan menulis yang runut (dengan kemauan untuk melatihnya sedikit demi sedikit.)

3. Lulusan filsafat kerja apa?

Saya sendiri setelah lulus S1 belum tahu mau jadi apa buat melanjutkan hidup. hahaha. ‘Filsuf’ tidak masuk dalam kategori jenis pekerjaan mana pun. Tapi, merujuk pada para lulusan filsafat, pekerjaan mereka beragam, mulai dari berkarir di dunia media, seni, bank, dan tentu kampus.

4. Bagaimana meyakinkan orang tua agar diizinkan kuliah di filsafat?

Hmm, ini pertanyaan sulit. Karena saya tidak perlu melalui tahap meyakinkan-orang tua. Saya dibesarkan oleh orang tua yang tidak mendikte jalan hidup saya. Tentang hal ini, saran saya begitu klise. Buatlah kesepakatan di antara kalian bertiga atau berdua. Misalkan, saya akan beri ayah-ibu nilai A untuk setiap mata kuliah yang saya ambil di semester pertama. Tapi sebetulnya saran ini tidak banyak membantu. Karena, asumsi saya, “kekhawatiran” para orang tua selain nanti-anakku-kerja-apa adalah gimana-kalau-nanti-kamu-jadi-ateis. hahaha. Saya pusing juga sih kalau punya orang tua yang berpikir demikian. (Sebagai informasi, di lingkaran pertemanan saya sendiri, teman-teman ateis saya justru datang dari orang-orang yang tidak punya latar belakang pendidikan formal di filsafat—dan saya begitu nyaman berinteraksi dengan mereka sebab mereka tidak judgmental dan referensi bacaannya berlimpah. Karena memang di jurusan ini tidak agenda ateisisasi.)

5. Punya rekomendasi buku apa untuk pemula?

Saya ini juga masih newbie di filsafat. Banyak peminat filsafat menyarankan membaca novel Dunia Sophie karya Jostein Gaarder yang bisa di beli toko buku. Saya sendiri belum membacanya. Tapi, saya punya satu-dua e-book tipis dalam bahasa inggris yang bisa saya kirim ke e-mailmu kalau kamu ingin menguji adakah kenikmatan intelektual yang kamu rasakan ketika membaca filsafat. Atau, jika kamu bukan seorang pembaca, alternatif sumber yang lain: Khan Academy dan The School of Life. 

6. Bagaimana suasana kuliah di Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya (FIB) UI?

Dulu saya nggak memperhitungkan faktor suasana-kuliah-di-FIB-UI. Setelah berjalan hampir tiga tahun, saya mampu beradaptasi dengan kantin sastra—nama fakultas ini berganti dari fakultas sastra—yang super-panas ketika cuaca begitu terik. Dari segi fasilitas FIB tentu tidak sebanding dengan fakultas rumpun ilmu kedokteran atau bahkan fakultas ekonomi dan bisnis. Tapi, setidaknya saya bebas kuliah memakai kaos dan shredded jeans tanpa dipandang tidak-rapi. Yang jelas, minimal di interaksi antara saya dengan beberapa orang, fakultas dengan mahasiswa/i dari 14 jurusan ini diisi oleh pikiran-pikiran yang relatif terbuka. Artinya, sampai hari ini saya belum pernah mendapati kegiatan-kegiatan yang mengindikasikan sikap-sikap homofobia atau paranoid terhadap ide-ide atau keberadaan komunitas tertentu.

Apa Kabar ‘Keluarga Mahasiswa’ Ganesha?

Disclaimer: Tulisan ini saya buat untuk tema #PekanMengenangKampus yang diusung situs berslogan ‘sedikit nakal banyak akal’. Tapi, tulisan ini akhirnya tidak dimuat. Temanya pun sudah berganti menjadi #PekanKuliner. Mungkin surat elektronik saya tidak masuk ke kotak surat redaksi. Atau bisa jadi karena tulisan memang tidak masuk ke kriteria kenangan-menggelitik-yang-layak-dibagi. Atau karena si penulis tidak punya nomor induk mahasiswa di kampus tersebut, maka pengalaman saya dianggap invalid. Saya hanya bisa mengira-ngira sebab saya tidak pernah tahu alasan persisnya. Sedari awal saya tidak mempublikasikannya di blog pribadi karena pertimbangan traffic pengunjung. Saya pikir jika bisa dimuat di situs tertentu, maka peluang dibacanya akan lebih tinggi. Setelah ada beberapa bagian yang diedit tanpa menghilangkan maksud isinya, saya akhirnya memutuskan untuk membaginya di sini.

Saya merasa kenangan pun bisa berupa kesan. Kesan yang begitu mendalam hingga terkenang pada kejadian yang sukses membuatmu geram—meski kamu sendiri bukan orang yang mengalaminya. Namun, tidak mengalaminya bukan berarti tidak bisa bersuara tentangnya, bukan? 

Cerita di bawah ini melibatkan kampus tempat dulu presiden pertama NKRI tercatat sebagai alumni. Betul, presiden yang retorika ‘beri aku 10 pemuda niscaya akan kuguncangkan dunia’ sering dipinjam banyak kegiatan anak muda kekinian, yang berambisi mendorong perubahan sosial tapi kerap enggan menanggalkan kenyamanan personal.

Kisah ini pernah diberitakan oleh portal berita daring detik news daerah—yang asumsi saya, editor dan wartawannya tidak paham bahwa di kode etik jurnalistik penulisan nama korban seharusnya berupa inisial. Seorang mahasiswi ITB dianiaya pacarnya (yang kini sudah jadi mantan) yang juga mahasiswa ITB dan ITB sebagai sebuah institusi pendidikan publik tidak menindak secara tegas si pelaku—yang jelas-jelas terbukti membuat si mahasiswi memar biru-biru.

Jika pengambil kebijakan di ITB adalah bapak-ibu dosen pemberani yang cukup cerdas untuk mengkategorikan pelaku sebagai seorang kriminal, maka sanksi maksimal yang mungkin diberlakukan adalah mengeluarkan pelaku sejak statusnya menjadi tersangka. Tapi rasa iba masih mendahului akal sehat rupanya. Atas alasan si pelaku adalah mahasiswa tingkat akhir yang akan menjalani sidang tugas akhir, maka men-drop-out pelaku bukan opsi yang bisa diambil. Tentu, rasa iba ini tidak muncul tiba-tiba. Lobi sana-sini dari bapak pemimbing tugas akhir bisa jadi turut andil.

Tirulah kampus veritas, probitas, iustita, yang begitu sigap mengeluarkan seorang tersangka pengedar narkoba. Kalau pengedar ya wajar dong langsung dikeluarkan. Narkoba membunuh ratusan ribu orang per tahun. Ini cuma kasus kekerasan. Penganiayaan yang tidak sampai menyebabkan kematian. Kenapa harus berlebihan sampai menggagalkan impian seorang calon sarjana muda yang kelak jadi pemimpin bangsa?

Lalu, di mana wadah yang mengaku ‘keluarga mahasiswa’? Ada, tapi entah sibuk apa. Tapi, jika kita pikir-pikir, buat apa berpolemik tentang perkara yang bukan politik? Buat apa ambil sikap hanya untuk satu mahasiswi saja? Buat apa repot-repot berinisiatif menggaungkan kampanye anti-kekerasan di dalam kampus? Buat apa menemui si mahasiswi dan menawarkan pendampingan selama proses persidangan? Buat apa mendesak rektorat untuk mengeluarkan si pelaku? Nanti kalau tidak diluluskan di mata kuliah tertentu bagaimana?

Prasangka baik saya, jika saya dipukuli, anggota keluarga saya, kakak-adik saya bersedia hadir untuk saya dengan cara apa pun yang mereka bisa. Iya, tapi ‘kan keluarga di dalam ‘keluarga mahasiswa’ itu cuma tempelan supaya memberi citra hangat; tapi tidak akan sehangat pelukan orang-orang terdekat yang tulus berucap, “kita hadapi ini sampai akhir bareng-bareng, ya. “

Saya skeptis jika tidak ada samasekali anggota pengurus ‘keluarga mahasiswa’ yang tidak bisa (atau tidak mau?) bersimpati dan berempati pada kejadian ini. Membayangkan rasanya dipukuli lalu tidak direspon secara serius oleh institusi ‘kan tidak perlu ambil kelas Paradigma Feminisme seperti anak-anak di kampus saya. (Oh iya, teknologi kan tidak ada hubungannya dengan kesetaraan dan keadilan gender, ya…)

Tapi, apa iya isu-isu perempuan dan penghargaan terhadap kemanusiaan tidak pernah dikaji di liqo’ atau diangkat di forum-forum diskusi kampus? Kalau pun ada, apa itu tidak cukup menggerakkan nalar pengurus ‘keluarga mahasiswa’ yang berhasil tembus ujian saringan masuk perguruan tinggi negeri untuk merespon kasus ini secara sungguh-sungguh?

Lagipula, kita sama-sama tahu sistem hukum di negara ini bobrok kronis.Rabu, 11 Maret 2015 lalu hakim sidang memvonis mahasiswa ITB hukuman tiga bulan penjara. Berharap pada hukum yang berkeadilan mungkin sama mustahilnya dengan berharap dosen kampus rakyat di tanah kanjeng sultan mencabut kesaksiannya di Pengadilan Tata Usaha Negara dalam kasus Samin VS Semen.

Wujud kepedulian paling sederhana yang bisa diupayakan badan yang mendaku ‘keluarga mahasiswa’ ini adalah menggunakan @KM_ITB untuk meramaikan dunia maya dengan tidak hanya dengan promosi satu event ke event yang lain. Memperingatkan para orang tua bahwa jika anak perempuannya ingin atau sedang mengejar cita-cita di sana bisa jadi korban selanjutnya. Agar abainya para intelektual muda ini tidak membenarkan apa yang pernah ditulis Malcolm X di Black Liberation and the Road to Worker’s Power bahwa just because you have colleges and universities doesn’t mean you have education. Agar diamnya mereka tidak mengamini apa yang Marthin Luther King Jr. sebut bahwa in the end, we will remember not the words of our enemies, but the silence of our friends.

Sampai kapan kita terjebak pada mitos hari ini bahwa pra-syarat perubahan adalah inspirasi plastik, bukan dari kemauan melakukan oto-kritik?